Octavadi's Weblog

Communication and Media Studies

Amplifikasi Media Massa Terhadap Superioritas Penampilan Fisik Sempurna

Ditulis oleh octavadi di/pada Mei 30, 2009

Wajah yang menarik dan penampilan fisik sempurna selalu menjadi daya tarik bagi manusia. Kecenderungan ini secara alamiah telah kita miliki sejak usia bayi. Media massa mengakomodasi kecenderungan ini dan mengamplifikasinya sebagai suatu ideologi budaya yang dominan. Artikel ini akan memperlihatkan bagaimana amplisikasi itu terjadi.

Artikel ini merupakan makalah akhir untuk kuliah Seminar Industri Media dan Budaya. Setelah dipresentasikan, ternyata terdapat beberapa bagian yang perlu penanganan lebih lanjut, misalnya: contoh film Nutty Proffesor untuk menggambarkan bagaimana media menggunakan ciri fisik untuk membedakan karakter superior dan inferior. Contoh ini perlu diberi penjelasan lebih lanjut jika tidak dihilangkan sama sekali. Lalu pada bagian akhir saya menyinggung bahwa media massa memperoleh keuntungan finansial dari amplifikasi budaya yang mengagungkan suoerioritas penampilan fisik. Bagian tersebut masih dapat dieksplorasi lebih mendalam. Hal lain yang masih dapat dikembangkan pembahasannya adalah representational unit yang disodorkan sebenarnya dapat lebih diperkaya, karena ini bukan hanya terlihat dari penggunaan visualisasi dalam media massa, namun juga dari pernyataan berbagai tokoh yang terlibat dalam industri media, fashion, kosmetik, dan juga audiens media.

Untuk para mahasiswa dan akademisi yang kebetulan merasa artikel ini bermanfaat untuk tulisan yang akan dibuatnya, please respect your self and do the proper citation procedure. Pake tata krama kutip mengutip yang pantas ya. Terima kasih

Pendahuluan

Latar Belakang

Manusia secara naluriah menyukai wajah-wajah menarik, kecenderungan seperti itu bahkan telah kita miliki semenjak bayi. Tayangan dokumenter produksi BBC memperlihatkan sekelompok bayi dihadapkan pada dua kelompok foto, yang pertama memperlihatkan wajah cantik Elizabeth Hurley (aktris Inggris) dan beberapa wanita cantik lain, sementara kelompok foto kedua memperlihatkan wajah pemandu acara yang sengaja berekspresi buruk serta wajah-wajah buruk lainnya. Bayi-bayi tersebut mengeluarkan eskpresi tidak nyaman, bahkan menangis ketika dihadapkan pada wajah-wajah buruk, namun tampak tenang bahkan tersenyum ketika dihadapkan pada wajah-wajah cantik dan menarik (BBC, 2008a).

Menarik atau tidaknya sebuah wajah bersifat subjektif, artinya setiap pengamat memiliki penilaian tersendiri terhadap daya tarik suatu wajah (Berry, 2008). Namun demikian manusia secara universal pada umumnya lebih menyukai wajah-wajah yang dianggap menarik. Pierce Brosnan menyatakan bahwa memiliki wajah yang menarik dengan keterampilan yang tepat akan membantu seseorang meraih sukses dibandingkan jika hanya memiliki keterampilan yang tepat saja (BBC, 2008a).

Wajah ternyata bukan satu-satunya indikator yang membedakan daya tarik seseorang, namun keseluruhan penampilan fisik pun turut menentukan daya tarik individu. Secara sosial, kita ternyata mengembangkan stratifikasi sosial berdasarkan penampilan fisik, seperti halnya kita mengembangan stratifikasi sosial berdasarkan ras, gender, dan usia. Individu-individu dengan penampilan fisik lebih menarik cenderung mendapatkan perhatian dan perlakuan sosial yang lebih baik. Ini menimbulkan pertanyaan apakah orang-orang dengan penampilan fisik yang lebih menarik, juga memiliki kekuatan sosial yang lebih besar? (Berry, 2008)

Ketertarikan manusia pada penampilan fisik yang bagus sepertinya diakomodir oleh media-media massa yang ada. Jika kita perhatikan dengan seksama figur-figur individu yang tampil atau bahkan menjadi icon media massa cenderung merupakan individu-individu yang memiliki penampilan fisik terutama wajah yang menarik atau dikategorikan sebagai cantik dan tampan.

Halaman muka majalah-majalah di dunia cenderung didominasi oleh figur model-model berwajah cantik/tampan dengan penampilan fisik yang menarik. Karakter-karakter dalam film terutama karakter utama dan protagonis biasanya berpenampilan menarik, sementara tokoh antagonisnya lebih sering digambarkan berpenampilan kurang menarik. Pola-pola seperti ini cenderung menjadi pola umum dalam industri media, dimana figur-figur berpenampilan fisik menarik lebih mendapat tempat dibandingkan dengan individu yang kurang menarik.

Permasalahan

Some ideological sets are elevated and amplified by mass media, given great legitimacy by them, and distributed persuasively, often glamorously, to large audiences (Lull, 1994; p.8).

Stratifikasi sosial berdasarkan penampilan fisik telah menjadi semacam ideologi tersendiri dalam sistem sosial masyarakat. Ideologi tersebut berlaku lintas bangsa dan telah tumbuh berkembang dalam kurun waktu yang cukup lama. Hal ini dapat kita raba indikasinya melalui berbagai cerita rakyat di berbagai bangsa yang menempatkan figur-figur berpenampilan fisik menarik sebagai tokoh utama kisah-kisah tersebut.

Salah satu peran media massa dalam masyarakat adalah merefleksikan kondisi dan nilai-nilai sosial disekitarnya (McQuail, 2000). Dengan demikian dominannya pemunculan figur-figur berpenampilan fisik menarik pada berbagai media sebenarnya merefleksikan nilai-nilai sosial yang mengagung-agungkan kesempurnaan fisik. Lull bahkan mengemukakan bahwa nilai-nilai tersebut tidak hanya sekedar direfleksikan, namun diangkat, diamplifikasi, lalu disebarkan secara persuasif dan glamour kepada sejumlah besar audiens.

Makalah ini mencoba menunjukkan bukti-bukti yang menunjukkan “bagaimana media massa mengangkat dan memperkukuh nilai-nilai budaya yang menyebabkan timbulnya stratifikasi sosial berdasarkan daya tarik penampilan fisik.

Media dan Budaya

Penyebaran dan pengukuhan nilai budaya melalui media massa

Budaya adalah suatu konteks. Ini adalah tentang cara memandang dunia dan menjalani berbagai aktivitas kehidupan (Lull, 1994; p.66). Cara pandang manusia terhadap manusia lainnya merupakan bagian dari cara pandang terhadap dunia tadi. Cara pandang ini mempengaruhi bagaimana manusia menilai, bersikap dan memperlakukan manusia lainnya.

Walaupun secara rasional kebanyakan dari kita memahami bahwa penampilan fisik seseorang tidak langsung mencerminkan kualitas moral, namun pada kenyataannya penampilan fisik yang buruk cenderung lebih diwaspadai dan dicurigai memiliki sikap moral yang buruk, daripada individu dengan penampilan fisik yang menarik (BBC, 2008a).

Cara pandang seperti itu disadari atau tidak telah menimbulkan stratifikasi sosial berdasarkan penampilan fisik. Individu-individu dengan penampilan fisik menarik cenderung lebih mendapat tempat dan prioritas kesempatan dalam ruang-ruang sosial (BBC, 2008b). Superioritas penampilan fisik menarik seperti ini lama kelamaan menjadi suatu ideologi, dimana orang-orang berlomba-lomba berusaha mencapai kesempurnaan fisik sebagai sarana pencapaian strata sosial yang lebih baik.

Ideologi seperti ini kemudian menyebar dengan cepat dan dipelihara secara sistematis seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi modern. Media massa sebagai produk teknologi komunikasi modern menjadi perangkat representasi ideologi (Lull, 1994; p.11).

Image System

James Lull mengungkapkan suatu sistem yang digunakan untuk menggambarkan penyebaran ideologi dominan. Sistem itu disebut sebagai image systems (sistem citra). Menurut Lull, penyebaran ideologi dominan yang efektif selalu tergantung pada penggunaan image systems secara strategis.

Image systems terdiri dari dua tipe dasar, yaitu ideational dan mediational. Sistem ini mengandung artikulasi lapisan-lapisan representasi ideologi dan penggunaan taktis teknologi komunikasi modern untuk mendistribusikan apa yang direpresentasikan. Jika sistem ini berhasil, akan mendorong penerimaan dan sirkulasi tema-tema dominan oleh audiens.

Ideational system

Ideational Systems.jpg

Sistem ini tersusun atas unit-unit representasi ideasional seperti halnya morfem dalam bahasa, dengan bentuk-bentuk pengorganisasian internal yang kompleks kemudian mengarahkan dan menganjurkan pada interpretasi-interpretasi tertentu.

Unit-unit representasi yang dimaksud adalah satuan pesan-pesan media yang tampaknya berdiri sendiri namun sebenarnya memiliki pola umum yang berulang antara satu pesan dengan pesan lainnya. Misalnya, pada konteks makalah ini, unit representasi adalah penggunaan figur-figur yang secara fisik menarik dalam berbagai media visual. Cover majalah-majalah terkemuka seperti Vogue, Time, Cosmopolitan, Newsweek dan sebagainya lebih banyak menampilkan visualisasi figur-figur fisik dan wajah yang menarik atau dibuat menarik melalui rekayasa kosmetik dan pengolahan digital.

Pengulangan unit representasi seperti itu membentuk pengorganisasian internal pesan, dimana terdapat kode dan pola yang teratur dan secara berulang muncul melalui pesan-pesan media.

Pola-pola tersebut mengandung makna tertentu yang jika diinterpretasikan sesuai dengan maksud produsen pesan, akan mengungkap ideologi dominan yang melatarbelakangi produksi pesan-pesan media tersebut.

Mediational Systems

Mediational Systems.jpg

Mediational systems terdiri dari technological mediation dan social mediation. Technological mediation mereferensikan pada campur tangan teknologi komunikasi dalam interaksi sosial. Ini adalah mengenai bagaimana unit-unit representasi dan internal organization pada ideational systems menjangkau audiens melalui pengunaan teknologi komunikasi. Mediasi teknologi membuat nilai-nilai budaya dapat menyebar dan sampai ke tempat-tempat yang jauh.

Sementara social mediation adalah penyebaran interpretasi pesan media melalui interaksi sosial untuk mengkonstruksikan kehidupan sehari-hari. Ini terlihat misalnya ketika orang-orang mendiskusikan acara televisi yang dilihatnya, membuat keputusan berdasarkan berita yang diterimanya melalui televisi dan sebagainya.

Konsep Keindahan Wajah

Kecantikan dan ketampanan atau keindahan wajah sifatnya subjektif, setiap pengamat akan memiliki penilaian spesifik tersendiri terhadap keindahan suatu wajah. Namun eksplorasi ilmiah seperti yang ditunjukkan dalam program dokumenter produksi BBC berjudul “beauty” memperlihatkan bahwa manusia tanpa memandang ras, jenis kelamin, maupun usia menyukai wajah-wajah yang dianggapnya menarik.

Penjelasan psikologis terhadap hal ini sebenarnya terkait pada faktor biologi. Wajah yang menarik hampir selalu diasosiasikan dengan kesehatan yang baik, sementara wajah yang buruk diasosiasikan dengan kesehatan yang kurang baik. Naluri manusia untuk menghindarkan diri dari penyakit serta naluri untuk mendapatkan pasangan yang sehat lah yang mendasari preferensi manusia pada wajah-wajah yang menarik.

Bagaimana manusia menilai keindahan wajah seseorang? Sekalipun konsep keindahan wajah memiliki penilaian relatif diantara individu dan bahkan ras, ternyata wajah-wajah yang dianggap menarik berdasarkan ukuran berbagai bangsa memiliki kesamaan yang universal, yaitu; simetris dan mengandung komposisi wajah yang memenuhi golden ratio.

Golden ratio ditemukan oleh Leonardo Da Vinci dan memiliki nilai rasio 1:1,618. Orang-orang yang dianggap memiliki figur fisik menarik dan sempurna ternyata memiliki rasio tersebut. Misalnya jarak antara dua sisi terluar hidung memiliki proporsi rasio 1:1,618 dengan jarak antara dua sisi terluar mulut. Sementara jarak antara kedua ujung mulut memiliki rasio 1:1,618 dengan jarak antara sisi terluar mulut dengan ujung tulang pipi, dan seterusnya.

Pembahasan

Ideational Systems

Dominasi Wajah dan Penampilan Fisik Menarik

Televisi merupakan salah satu media massa yang memikat banyak audiens. Television has the unparalleled ability to expose, dramatize, and popularize cultural bits and fragments of information. Itu dilakukan dengan secara rutin menyiarkan program-program hiburan, berita, dan iklan (Lull, 1994; p.9). Figur-figur menonjol dalam televisi diwakili oleh artis-artis hiburan televisi, presenter berita, bintang iklan dan sebagainya. Kalau kita perhatikan figur-figur tersebut mayoritas memiliki penampilan fisik yang dapat dikatakan menarik.

Program berita di Indonesia misalnya, memiliki presenter seperti Prita Laura, Zelda Safitri, Grace Natalie yang bukan hanya mampu melakukan peliputan dan mengantarkan berita kehadapan pemirsa, namun juga memiliki figur wajah yang enak dipandang. Para reporter lapangan berbagai stasiun televisi pun seringkali menampilkan sosok-sosok wajah yang menarik. Memang terdapat pula jurnalis televisi yang tampak biasa-biasa saja di depan layar, namun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan reporter berpenampilan menarik. Kenyataan ini merupakan strategi stasiun televisi untuk merebut perhatian audiensnya.

Edy Sunaryo, Program Operation General Manager ANTV dan Makroen Sanjaya, Editor in Chief Metro TV pada suatu kesempatan pernah mengakui bahwa penyaringan reporter dan presenter selain memperhitungkan kecerdasan dan kemampuan jurnalisme juga memperhitungkan daya tarik fisik. Jika terdapat sejumlah kandidat reporter yang memiliki kecerdasan dan kemampuan yang kurang lebih sama, maka yang dipilih adalah yang berwajah paling menarik.

Program hiburan lebih banyak lagi menampilkan figur-figur menarik atau dibuat menarik. Kita mengenal figur-figur seperti Luna Maya, Pasha Ungu, Nadia Safira, Tora Sudiro, Mulan Jameela, Aura Kasih, dll. Walaupun masing-masing memiliki bidang keahlian yang berlainan, namun mereka semua memiliki kesamaan, yaitu penampilan fisik yang menarik. Jika pun ada figur televisi berpenampilan kurang menarik, figur tersebut biasanya didandani sedemikian rupa untuk mengurangi kelemahan-kelemahan penampilan fisiknya. Figur-figur yang tidak terlalu menarik ini biasanya memiliki keunikan dan bakat yang luar biasa untuk menjadi komoditi di media, sedangkan bagi figur berpenampilan menarik bakat seringkali menjadi pertimbangan kedua.

Film layar lebar dan sinetron dibanjiri dengan aktris dan aktor berpenampilan menarik. Bintang-bintang film terkenal didominasi oleh wajah-wajah cantik dan tampan, sementara bintang film terkenal berwajah kurang menarik jumlahnya relatif sedikit. Pada tingkat internasional misalnya, kita mengenal; Pierce Brosnan, Elizabeth Hurley, Michelle Pfeiffer, Cate Blanchett, Nicole Kidman, dsb. Pada level nasional terdapat figur-figur seperti; Dian Sastro, Tora Sudiro, Kinaryorsih, Cut Mini dsb.

Pierce Brosnan, pemeran beberapa film James Bond mengungkapkan bahwa dirinya terkadang bertanya-tanya seandainya saja hidungnya sedikit bengkok, mungkinkan kemampuan aktingnya dapat lebih baik dari saat ini. Menurut Brosnan, memiliki wajah menarik memang cukup membantu dalam kehidupan sosial dan profesional, namun disisi lain hal tersebut menyisakan pertanyaan apakah karir yang dimilikinya saat ini lebih dipengaruhi oleh penampilannya ataukah kemampuan aktingnya (BBC, 2008b).

Media cetak terutama majalah juga banyak menampilkan figur-figur yang secara fisik menarik. Mulai dari majalah nasional seperti; Hai, Kartini, Femina, Selullar dan sebagainya, sampai majalah internasional, seperti;Vogue, Cosmopolitan, Time, NewsWeek, People dan sebagainya. Semua sering manampilkan figur-figur berpenampilan fisik menarik sebagai model pada halaman muka.

Tentu saja iklan yang memiliki fungsi utama menjual produk dapat dipastikan selalu menggunakan model berpenampilan fisik menarik, walaupun hal tersebut berpotensi mengalihkan perhatian audiens dari produk utama yang ditawarkan. Misalnya; penggunaan Aura Kasih sebagai model iklan produk salah satu produk minuman teh atau model wanita cantik dan seksi dalam iklan telepon genggam.

Si Menarik vs Si Buruk Rupa

Tradisi Hollywood klasik selalu menggunakan aktor dan aktris menarik untuk memerankan tokoh-tokoh utama, sementara tokoh jahat disimbolkan dengan penampilan yang tidak menarik atau buruk. Film Superman Return misalnya menampilkan tokoh Superman dengan tampilan fisik yang disebut oleh teman penulis sebagai, “keterlaluan gantengnya”, sedangkan Lex Luthor sang penjahat digambarkan lebih tua dan botak.

Karakter film sering digambarkan berpenampilan menarik untuk menandai heroisme dan sifat-sifat baik yang melekat pada karakter tersebut, sedangkan penampilan fisik yang buruk seringkali digunakan untuk menggambarkan karakter yang lemah atau bersifat buruk. Cerita klasik “Nutty Proffesor” misalnya menggambarkan seseorang dengan dua versi penampilan, yaitu proffesor yang secara fisik tidak menarik dan versi diri proffesor yang berubah menjadi menarik. Versi proffesor yang kurang menarik digambarkan memiliki kemampuan sosial yang rendah dan selalu menjadi olok-olok orang sekitarnya, sedangkan versi diri proffesor yang berpenampilan menarik digambarkan sebagai magnet bagi wanita, percaya diri, dan pandai bergaul.

Contoh lain misalnya “Pirate of Carribean” ketiga tokoh utama, Jack Sparrow, Will Turner dan Elizabeth Swan divisualisasikan dengan penampilan fisik lebih baik dibandingkan dengan penampilan fisik karakter antagonis Kapten Barbosa dan anak buahnya.

Film-film Hollywood masa kini memang tidak selalu menampilkan tokoh jahat dengan tampilan fisik yang lebih buruk dari tokoh utama baik, misalnya “Angels and Demons” justru menampilkan antagonis utama dalam sosok Ewan McGregor sebagai Camerlengo yang menarik dan simpatik. Namun ada hal yang tidak berubah dalam film tersebut, yaitu semua peran yang cukup lama tampil di layar, seperti kedua polisi yang mati tertembak di dalam mobil penjahat, tetap memiliki tampilan fisik yang menarik.

Pemunculan figur-figur berpenampilan fisik menarik pada berbagai media massa visual tersebut dapat dikategorikan sebagai representational units dalam Ideational Image Systems yang diajukan James Lull. Penggunaan figur-figur tersebut seolah-olah muncul secara terdesentralisasi, karena masing-masing media tidak memiliki keterkaitan atau koordinasi satu sama lain. Keputusan casting director film Angels and Demons untuk menggunakan Ewan McGregor sebagai tokoh antagonis dalam film itu, tidak ada kaitannya sama sekali dengan penentuan Luna Maya sebagai presenter “Dashyat” di Indonesia.

Namun penonjolan figur-figur berpenampilan fisik menarik yang tampak sporadis pada berbagai media seluruh dunia ini sebenarnya memiliki pola yang membentuk internal organization. Figur-figur tersebut terpilih untuk muncul di media karena mewakili apa yang disebut cantik, tampan, atletis, seksi, sehat, kuat, anggun dan sebagainya. Semua figur tersebut dipilih karena dianggap mendekati kesempurnaan daya tarik fisik figur manusia.

Manusia dari dahulu memang mengagumi kesempurnaan fisik spesiesnya. Kekaguman ini pada awalnya berlandasan pada naluri untuk mempertahankan diri dari penyakit, sekaligus naluri untuk mencari pasangan hidup yang sehat bagi dirinya. Namun alasan mendasar itu kemudian berkembang menjadi suatu ideologi yang mengutamakan penampilan fisik dalam sistem sosial di sekitar kita.

Ideologi seperti itulah yang direfleksikan kembali oleh media massa melalui berbagai representational units yang ada sehingga membentuk internal organization yang terpola untuk menyampaikan suggested interpretations bahwa penampilan fisik yang sempurna memiliki nilai yang berharga ditengah masyarakat, bahwa sesuatu yang tampak dipermukaan itu menjadi faktor yang harus diperhatikan dibandingkan karakter yang ada dibaliknya.

Dominasi ideologi semacam itu membentuk superioritas berdasarkan penampilan fisik, dimana orang-orang berpenampilan fisik lebih baik dianggap memiliki karakter dan kemampuan lebih baik pula. Ini pada akhirnya menciptakan apa yang disebut sebagai stratifikasi sosial berdasarkan penampilan fisik.

Mediational Systems

Technological Mediation

Representational units untuk menggambarkan superioritas penampilan fisik yang menarik tersebar luas melalui penggunaan teknologi komunikasi modern. Masyarakat Indonesia dapat menikmati figur-figur menarik dari berbagai penjuru dunia melalui televisi, bioskop, situs web, majalah dan sebagainya.

Majalah seperti Cosmopolitan, FHM, dan sebagainya kini telah hadir dalam versi Indonesia nya. Film-film Hollywood, Bollywood, Korea, Jepang dan sebagainya dapat dinikmati dengan cepat di bioskop atau youtube.

Penyebaran media yang mengandung representational units ini semakin meneguhkan ideologi superioritas penampilan fisik keseluruh penjuru dunia.

Social Mediation

Pesan-pesan media yang mengandung representational units tadi diterima dan diinterpretasi oleh individu-individu dalam masyarakat. Kita mendiskusikan, membicarakan kekaguman kita pada figur-figur media yang cantik, menarik, atletis, seksi dan sebagainya.

Bukan hanya pada tingkat diskusi, interpretasi ini juga mempengaruhi cara kita berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Kita menjadi cenderung menempatkan penampilan fisik sebagai elemen penting untuk menilai karakter orang lain. Kita menjadi lebih konsumtif terhadap produk dan layanan yang dianggap mampu meningkatkan penampilan fisik kita.

Industri fashion dan kosmetik adalah industri yang sangat terkait dengan upaya meningkatkan penampilan fisik. Kedua industri ini memiliki nilai ekonomi yang besar dan turut membiayai operasional media massa melalui pembelian ruang iklan. Industri kosmetik yang terkait dengan perawatan kulit, misalnya memiliki perputaran uang diseluruh dunia sebesar 24 milliar dollar amerika pertahunnya (Berry, 2008). Dengan nilai sebesar itu wajar apabila industri-industri tersebut mendukung penyebaran dan pengukuhan ideologi yang mengagungkan superioritas penampilan fisik.

Nilai-nilai artifisial seperti popularitas dan ketenaran pun semakin meningkat, sehingga orang berlomba-lomba mendandani diri agar memiliki peluang lebih besar untuk masuk menjadi figur media massa berikutnya. Acara-acara pencarian bakat seperti Indonesian Idol, Model Indonesia, KDI, Gadis Sampul, L-Man of the year dan sebagainya pun laris peserta. Walaupun bakat-bakat yang diasah pada berbagai acara tersebut relatif berbeda, namun tetap saja para pesertanya didandani sedemikian rupa sehingga cukup menarik untuk disaksikan melalui media massa.

Demikianlah, lingkaran ideologi superioritas penampilan fisik menarik ini akan terus berlangsung, disebarkan, dan diperkuat oleh media massa, karena secara tidak langsung ideologi seperti ini menyumbangkan kontribusi ekonomi yang cukup signifikan bagi industri media.


Bibliography

BBC (Writer) (2008a). The Human Face [DVD]. In M. Mosley, N. Rossiter & G. sally (Producer), Beauty. England: BBC.

BBC (Writer) (2008b). The Human Face [DVD]. In M. Mosley, N. Rossiter & G. sally (Producer), Fame. England: BBC.

Berry, B. (2008). The Power of Looks: Social Stratification of Physical Appearance (illustrated ed.): Ashgate Publishing, Ltd.

Lull, J. (1994). Media Communication, Culture – A Global Approach: Polity Press.

McQuail, D. (2000). McQuail’s Mass Communication Theory (4th ed.). London: Sage Publication.

Powered by Qumana

Ditulis dalam Media and Cultural studies | Bertanda: , | Leave a Comment »

Article Summary: Beyond Agenda-Setting by Oscar Gandy

Ditulis oleh octavadi di/pada Maret 30, 2009

Original Article:Beyond Agenda-Setting Oscar Gandy AGENDA SETTING: READINGS ON MEDIA, PUBLIC OPINION, AND POLICY MAKING D.L Protess & M. McCombs

Posting lain yang berasal dari tugas perkuliahan di program Pacsa Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Inti artikel Gandy ini mencoba mengungkap faktor-faktor diluar tubuh teori agenda-setting yang mempengaruhi implementasi teori tersebut. Faktor menonjol adalah pola hubungan yang terbentuk antara pekerja media dengan nara sumber. Review ini akan mengalami edit ulang demi meningkatkan kenyamanan membaca.

Untuk para mahasiswa dan akademisi yang kebetulan merasa artikel ini bermanfaat untuk tulisan yang akan dibuatnya, please respect your self and do the proper citation procedure. Pake tata krama kutip mengutip yang pantas ya. Terima kasih

Argumen inti dari teori agenda setting adalah isu-isu yang dianggap penting dan menjadi agenda oleh media massa akan berpengaruh secara linier terhadap isu-isu yang dianggap penting dan menjadi agenda oleh publik. Artikel berjudul “Beyond Agenda Setting” dari Oscar Gandy ini berupaya memaparkan isu-isu lanjutan mengenai pembahasan agenda setting. Isu-isu yang terkait namun tidak banyak dibahas dalam pembahasan inti teori agenda setting itu sendiri. Gandy terutama menggunakan pendekatan ekonomi politik untuk membedah faktor sumber berita yaitu gatekeeper dan nara sumber dalam konteks penyusunan agenda media.

Bagian awal artikel mengungkap kembali latar belakang sejarah teori. Kurt dan Gladys Lang disebut-sebut sebagai pihak yang awalnya menyinggung fungsi agenda setting bagi media massa. Mereka mengeluarkan argumentasi bahwa media massa membentuk suatu realitas yang sangat pervasif dan obtrusif sedemikian rupa yang sulit atau bahkan tidak mungkin menghindarkan diri dari pengaruhnya. Argumentasi tersebut mereka buat berdasarkan analisis terhadap kampanye pemilihan presiden tahun 1948 dan 1952. Mereka menyimpulkan, media memiliki suatu peran penting dalam mempengaruhi bagaimana para pemilih akan memilih. Kedua Langs menolak pendekatan “limited effects”/efek terbatas pengaruh media dari Josepsh Klapper yang didasari oleh riset dalam periode terbatas, yaitu di masa kampanye pemilihan saja. Menurut Lang semua berita relevan terhadap pemilihan dan bukan hanya terbatas pada pidato-pidato selama kampanye.

Berdasarkan pemikiran Lang inilah McCombs dan Shaw melakukan riset yang menyodorkan verifikasi empirik untuk pertama kalinya terhadap apa yang mereka namakan fungsi agenda setting media massa. Dalam riset mereka McCombs dan Shaw memilih massa mengambang (undecided voters) untuk menghindari bias pemilihan isu kampanye berdasarkan preferensi politik yang sudah terbentuk sebelumnya. Para subjek penelitian diminta untuk mengidentifikasikan isu-isu utama dalam kampanye sebagaimana yang mereka lihat, dengan mengabaikan posisi para kandidat pemilu terhadap isu-isu tersebut. Analisis isi terhadap media-media terpilih menghadirkan daftar 15 kategori isu yang dianggap sangat penting dan kurang penting bagi media seperti yang direfleksikan melalui jumlah pemunculan isu-isu tersebut. Ternyata terdapat korelasi yang tinggi antara apa yang dianggap penting oleh media dengan apa yang dianggap penting oleh massa mengambang. Ini dianggap bukti adanya kekuatan media untuk mempengaruhi nilai penting isu-isu yang kemudian membentuk agenda publik.

Publikasi riset ini kemudian memicu berbagai penelitian sejenis untuk melihat apakah hasil nya bervariasi sesuai jenis media dan kelompok-kelompok isu. Seperti halnya kajian efek media lain, riset-riset agenda setting mengungkap kompleksitas yang ada terhadap fenomena tersebut seiring dengan digunakannya berbagai variabel berbeda sebagai landasan perbandingan. Terdapat perbedaan hasil mengenai kekuatan dan keterkaitan antara konten dan agenda publik manakala peneliti menggunakan kondisi-kondisi yang berbeda. Perbedaan kesesuaian antara agenda media dan agenda publik antara lain dipengaruhi oleh:

  1. Derajat ketertarikan pengguna media terhadap urusan-urusan publik

  2. Pengetahuan pengguna media mengenai isu-isu dan posisi para kandidat terhadap isu-isu tersebut

  3. Keterlibatan pengguna media dalam diskusi isu-isu politik dengan teman dan keluarga

  4. Menunjukkan kebutuhan orientasi dalam pola-pola konten media yang berputar-putar

Permasalahan metodologi tentang pengukuran agenda media dan publik juga muncul kepermukaan. Teknik bertanya yang digunakan pun akan sangat berpengaruh terhadap jawaban yang muncul. Misalnya warga kulit hitam Amerika akan mengeluarkan respon yang berbeda ketika ditanya tentang masalah paling penting yang dihadapi pemerintah saat ini, dibandingkan ketika ditanya masalah paling penting apa yang dihadapi warga kulit hitam saat ini.

Terdapat pula masalah-masalah yang diasosiasikan dengan bagaimana menentukan hubungan yang seharusnya diantara perhatian media terhadap suatu isu dan pengaruhnya dalam mengangkat urutan prioritas penting tidaknya isu tersebut dalam agenda publik. Sebagian peristiwa atau isu dapat dengan mudah masuk menjadi agenda publik, sementara isu lainnya membutuhkan waktu lebih lama, dan landasan teoretis riset agenda setting yang ada tidak mampu memberikan perkiraan berapa lama jeda waktu yang optimal itu seharusnya terjadi. Problem mengenai waktu yang dibutuhkan suatu isu untuk masuk dalam agenda publik ini ditunjukkan Lang dalam kasus “Watergate”, walaupun liputan media telah gencar dilakukan semenjak kasus itu terungkap, isu Watergate ternyata membutuhkan waktu cukup lama untuk masuk menjadi agenda publik. Lang menggambarkan beberapa isu memiliki “low threshold” (ambang batas rendah) karena keterkaitan antara isu-isu tersebut dengan kesejahteraan personal individu tergolong cukup tinggi, atau dengan kata lain isu dalam liputan media langsung terkait dengan kepentingan audiens. Isu-isu yang tidak menyentuh langsung sebagian besar kehidupan audiens tampaknya memiliki ambang batas yang cukup tinggi, membutuhkan perhatian media yang memadai untuk mencapai tingkat perhatian dan kepentingan yang sama dalam kesadaran publik. Catatan tersebut mirip dengan apa yang disebut Gerbner sebagai resonansi, dimana kondisi nyata dan pengalaman memiliki pengaruh dalam meningkatkan dampak penggambaran media terhadap kekerasan dan kenyataan sosial. Dalam kasus Watergate tadi, pembobolan kantor partai republik tidak memiliki efek langsung bagi kehidupan sebagian besar audiens, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menggesernya menjadi agenda publik yang cukup penting membutuhkan waktu cukup lama.

Catatan mengenai kondisi-kondisi dan perhatian-perhatian penting yang diasosiasikan dengan pengumpulan bukti-bukti ilmiah untuk mendukung keberadaan efek agenda-setting cukup banyak dan panjang, dan tampaknya akan terus bertambah. Namun semua itu tampaknya mengarah pada kesimpulan bahwa : sebagian liputan media akan mempengaruhi agenda sebagian orang, tergantung isu-isu yang diangkat dan waktunya. Dengan mempertimbangkan elemen perbedaan individu, dapat dipastikan riset-riset akan menunjukkan sejumlah variasi temuan mengenai dampak agenda media. Namun hal tersebut dapat dipertanyakan pengaruhnya bagi analisis akhir mengenai kekuatan pengaruh media, karena seperti yang disebutkan Lang: formulasi agenda setting itu terlalu kecil dan terlalu berlebihan.

Kesadaran yang utuh tidak didasari oleh terpaan media semata. Walaupun pengaruhnya semakin mengecil, sebagian kesadaran itu didasari oleh pengalaman langsung dengan lingkungan sekitar. McCombs dan rekan tampaknya ingin membatasi bangunan agenda setting pada permasalahan nilai penting isu, maka Lang menganjurkan untuk melihat diluar batas pembahasan teori agenda setting untuk menentukan siapa sebenarnya yang menyusun agenda media, bagaimana dan untuk tujuan apa agenda itu disusun, dan dampak apa yang timbul dari sisi distribusi kekuasaan dan nilai dalam masyarakat.

Gandy menggunakan pedekatan ekonomi politik untuk mengembangkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tadi, dan menjauhi landasan tradisi psikologi sosial yang sering digunakan dalam sebagian besar penelitian empirik tentang komunikasi massa. Pengetahuan dan informasi tampaknya memiliki nilai ekonomi dan politik melalui kaitan mereka dengan kekuatan, atau pengendalian terhadap tindakan pihak lain. Dalam masyarakat kapitalis secara umum, dan di Amerika Serikat khususnya, kekuatan pengetahuan dan informasi telah teramplifikasi melalui kecenderungan masyarakat kapitalis untuk merubah barang-barang publik menjadi kepemilikan pribadi. Seperti halnya komoditas lain dalam pasar kapitalis, pasar informasi juga dicirikan melalui kekurangan dan surplus informasi sebagai komoditas. Misalnya Iklan dan materi promosi diproduksi secara berlebihan sementara informasi yang berkaitan dengan penelitian genetik sama sekali tidak tersedia bagi masyarakat umum.

Informasi menjiwai proses pengambilan keputusan baik di level individu maupun kolektif, karena itu pengendalian terhadap informasi berpengaruh terhadap pengendalian terhadap pengambilan keputusan. Pertukaran informasi sebagian besar digerakkan oleh determinasi ekonomi, maka penyimpangan distribusi sumberdaya ekonomi akan terefleksikan dalam penyimpangan distribusi informasi. Perspektif ekonomi seperti ini membuat kita dapat melihat bahwa pengendalian terhadap keputusan dan tindakan pihak lain sebagai penggunaan kekuatan untuk mengendalikan akses informasi. Dalam masyarakat kapitalis, manipulasi harga adalah salah satu cara untuk mengendalikan konsumsi informasi. Konsumsi akan meningkat saat harga komoditas rendah, sebaliknya konsumsi cenderung meningkat saat harga komoditas tinggi. Pihak yang memiliki kendali terhadap harga informasi, tidak hanya memiliki kendali terhadap konsumsi informasi tersebut, namun juga memiliki pengaruh terhadap keputusan-keputusan yang dilandasi oleh informasi-informasi tersebut. Tentu saja semua pihak yang berkepentingan terhadap keputusan-keputusan macam itu akan mendapatkan keuntungan dengan mempengaruhi harga yang harus dikeluarkan pihak-pihak lain untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan keputusan-keputusan tadi. Upaya mengurangi harga dilakukan untuk meningkatkan konsumsi informasi digambarkan sebagai subsidi informasi. Melalui subsidi informasi kepada dan melalui media massa inilah, kekuatan ekonomi mampu mempertahankan kendali terhadap masyarakat kapitalis. Lang menjauhi pendekatan psikologi sosial dan menggunakan pendekatan ekonomi politik untuk memahami peran informasi dan media dalam mempertahankan status quo.

Namun terdapat sejumlah elemen yang belum tergali, dan artikel-artikel dalam buku ini sepertinya berusaha mengeksplorasi dimensi-dimensi perilaku sumber informasi dan kondisi struktural yang memfasilitasi pemanfaatan informasi sebagai instrumen kontrol sosial.

Focus on The Source

Terdapat banyak cara untuk menggambarkan sumber-sumber konten media. Media dapat dipandang sebagai sesuatu yang bersifat kolektif tanpa membedakan berbagai jenis media yang ada, atau membagi media kedalam sub grup, cetak dan elektronik. Kelompok kecil peneliti lain meneliti konten media untuk memahami sifat organisasi berdasarkan konsistensi dan pola perhatian dan penekanan sumber-sumber informasi tertentu. Melalui pendekatan seperti ini, konten analis mampu menggambarkan kesimpulan tentang asumsi manajerial yang menentukan konten media massa.

Gerbner menggunakan pendekatan analisis proses instusional, yaitu teknik-teknik observasi baik partisipatif maupun non partisipatif untuk menggambarkan prosedur, tekanan-tekanan, dan batasan yang tergambar dalam produksi struktur karakteristik simbolik. Regularitas konten yang tergambar sepertinya merupakan hasil dari interplay diantara berbagai tekanan institusional yang berpengaruh kepada media melalui berbagai sumber kekuatan, seperti; penguasa yang mengeluarkan ijin dan mengatur hukum, penyedia modal, organisasi, institusi dan kumpulan publik, dan pihak manajemen yang menentukan kebijakan dan mengawasi operasi media.

Walaupun Gerbner mengidentifikasikan 9 sumber kekuatan utama yang mempengaruhi produksi pesan, riset-riset utama selama ini telah fokus pada kelompok yang disebutnya para ahli; tenaga kerja kreatif, teknisi, atau para profesional yang membuat, mengorganisasikan, dan mentransmisikan konten media. Termasuk dalam kelompok ini adalah para jurnalis, reporter, dan editor yang mengoperasikan gerbang informasi dalam pres kapitalis. Orang-orang tersebut disebut gatekeeper. Kajian tentang gatekeeper biasanya memandang konten sebagai hasil tindakan individual, dan berupaya memahami tindakan tersebut dengan mencoba memahami latar belakang personaliti jurnalis.

Kajian paling awal dan paling penting tentang gatekeeper ini dilakukan oleh David Manning White pada tahun 1950, yaitu kajian seleksi berita berdasarkan opini Mr. Gate. White mendata alasan Mr.Gate sebagai editor dalam menentukan berita mana yang layak dimuat. Hasilnya antara lain menunjukkan berita ditolak sebagian karena dianggap terlalu bersifat propaganda atau terlalu bersifat komunis (red), kadang ada yang ditolak karena diduga mengandung informasi palsu atau salah. Namun alasan paling penting adalah keterbatasan ruang media. Berita ditolak walaupun lolos seleksi editor sebelumnya karena tidak ada ruang yag cukup untuk mempublikasikannya. White menyimpulkan bahwa editor memiliki kekuasaan independen terhadap konten media dan bahwa masyarakat akan mendengar fakta-fakta dan kejadian yang dianggap benar oleh editor tersebut.

Walter Gieber memiliki pandangan yang lebih realistik tentang batasan kekuatan jurnalis dan editor secara individual: nasib suatu berita lokal bukan ditentukan oleh kebutuhan audiens atau bahkan oleh nilai yang terkandung didalamnya. Berita tersebut dikendalikan melalui kerangka referensi yang diciptakan oleh struktur birokrasi dimana sang komunikator menjadi anggotanya. Paul Hirsch membawa pendekatan strukturalis ini sedikit lebih dalam, Hirsch menyarankan bahwa tuntutan organisasi jauh melebihi preferensi individu apapun yang mungkin mengarahkan gatekeeper tunggal manapun. Analisis ulang terhadap kajian White menunjukkan konsistensi persentase berita yang dipilih editor dari sejumlah berita yang ditawarkan oleh kantor berita. Namun walaupun editor dapat memiliki sejumlah alasan atau justifikasi personal terhadap pilihan yang dibuatnya, sang editor sebenarnya sedang mempraktekkan kebebasan yang dimilikinya sebatas ruang yang diijinkan untuk memilih berita tertentu sesuai standar yang disepakati luas, dalam hal ini standar kepantasan pemuatan berita bagi segmen harian berukuran medium, di barat yang didominasi oleh pembaca konservatif.

Gatekeepers and Their Sources

Masih dalam konteks tuntutan organisasi atau struktural, penelitian terbaru terhadap sifat aktivitas pemberitaan telah mengenali adanya hubungan antara jurnalis dengan sumber informasinya. Bagi sebagian peneliti, hubungan ini bersifat sosial, bagi yang lainnya, hubungan tersebut pada dasarnya bersifat ekonomi.

Herbert Gans sering menggunakan metafora sosial yang memandang hubungan antara narasumer dengan jurnalis sebagai pasangan dansa, narasumber mencari akses terhadap jurnalis, dan jurnalis mencari akses terhadap narasumber. Walaupun seperti istilah populer, “in takes two to tanggo”, baik jurnalis maupun nara sumber dapat memimpin tarian, namun lebih sering terjadi narasumber lah yang memimpin. Berdasarkan pendapat Hess dapat disimpulkan bahwa kedekatan dan simpati alami dapat membawa jurnalis dan narasumbernya dalam suatu kontak.

Sebagian narasumber menjadi narasumber secara otomatis, karena mereka harus didekati berdasarkan posisi yang mereka dimiliki. Namun disisi lain reporter pun memilih narasumer yang diinginkannya. Bagi jurnalis terdapat narasumber yang cenderung dijauhi karena alasan gaya, bahasa birokratik, data yang kurang bisa diandalkan, dsb.

Pendapat lain mengemukakan mungkin saja kontak rutin antara jurnalis dan narasumber akan berkembang menjadi tingkat identifikasi personal tertentu, yang bisa jadi menghasilkan keengganan jurnalis untuk mengungkap informasi yang mungkin dapat melukai atau menghambat hubungan mereka. Edie Goldenberg menyebutkan interaksi antara jurnalis dan nara sumber seiring waktu cenderung menjauhkan reporter dari pembaca sebagai target utama laporan mereka. Jurnalis lama kelamaan cenderung menulis untuk narasumber yang menjadi teman karena kontak rutin tadi, daripada menulis untuk audiens massa. Pengaruh kedekatan sosial seperti penjelasan-penjelasan diatas mungkin dapat dikurangi dengan menggunakan pertimbangan ekonomi. Interaksi sosial pun dapat dipandang melalui terminologi cost dan benefit, investasi dan penghargaan. Jurnalis harus memenuhi tenggat waktu, editor harus mengisi ruang media, produser harus mengisi waktu diantara iklan komersil. Untuk mengurangi ketidakpastian dalam memenuhi tuntutan standar organisasi inilah, jurnalis membina hubungan pertukaran dengan narasumber yang dalam batasan tertentu mengandung banyak sifat pasar ekonomi tradisional.

Pada umumnya tidak terjadi pertukaran uang antara jurnalis dan narasumbernya kecuali dalam sejumlah kecil kasus “checkbook journalism”, dimana reporter membayar narasumber untuk informasi yang diberikan. Pertukaran yang terjadi lebih kepada pertukaran nilai dibandingkan pertukaran uang. Jurnalis memutuskan investasi waktu yang pantas untuk mengejar narasumber tertentu dibanding narasumber lainnya, berdasarkan pertimbangan probabilitas hasil seperti apa yang nantinya akan didapat. Narasumber yang telah terbukti memberikan informasi bernilai di masa lalu akan mendapat prioritas dibandingkan dengan narasumber yang tidak dikenal atau yang pernah memberikan informasi palsu atau salah dimasa lalu. Nilai narasumber juga rendah apabila informasi yang diberikan sulit dikemas kedalam cerita yang layak publikasi.

Kelompok narasumber tertentu telah dikenali sebagai narasumber yang lebih dapat diandalkan dibanding narasumer lain. Pejabat resmi, atau institusi birokrasi cenderung menjadi pihak yag paling dapat diandalkan, hasilnya suplai informasi birokratik mendominasi saluran-saluran berita di media massa. Mark Fishman malah melihat bahwa birokrasilah yang banyak melakukan pekerjaan jurnalis. Bahkan ketika jurnalis menyadari terdapat unsur kepentingan diri sendiri dalam suatu kontroversi, dan dengan sdikit upaya jurnalis dapat membentuk kajian yang lebih seimbang terhadap isu tersebut, Fishman berpendapat hukum upaya minimal biasanya menjadi pedoman perilaku jurnalis. Reportase investigatif atau berita-berita korporat membutuhkan waktu peliputan yang cukup memakan waktu, dan jurnalis memiliki keterbatasan waktu untuk memproduksinya. Ketika rata-rata jurnalis mungkin hanya membangun satu topik dalam satu minggu, pemanfaatan sumber-sumber birokratik memfasilitasi produksi dua atau lebih cerita rutin setiap harinya. Menurut term Goldenberg, reporter harus memiliki energi dan dedikasi yang luar biasa besar untuk melahirkan cerita-cerita untuk keluar dari ketergantungan terhadap sejumlah besar kisah-kisah sudah jadi yang berikan ketangan mereka. Para jurnalis harus berusaha sendiri melakukan jurnalisme investigatif. Ketergantungan terhadap narasumber birokrasi terbentuk karena kecenderungan jurnalis untuk menerima informasi dari narasumber rutin tersebut sebagai fakta. Ketika landasan faktual informasi tidak dipertanyakan, jurnalis tidak membutuhkan investasi waktu untuk melakukan verifikasi.

Para jurnalis mungkin mengingkari kemungkinan bahwa mereka telah diperalat propaganda birokrasi atau menyangkal mereka membebaskan narasumber dari segala bentuk kecurigaan, namun bukti-bukti ada di halaman-halaman koran. Leon Sigal menunjukkan bahwa dari 1200 cerita yang terbit di The New York Times dan Washington Post, 58% diantaranya diidentifikasikan berasal dari saluran birokratik. Hanya 25% kisah-kisah penting dalam koran terkemuka itu yang dapat diidentifikasikan sebagai hasil kerja jurnalisme investigatif. Walaupun jurnalis telah memastikan keabsahan informasi, masih terdapat pertimbangan ekonomi lain yang membuat para jurnalis ikut dalam arus. Fishman menyebutkan suatu contoh kasus; unit polisi baru berusaha meraih publisitas dengan membocorkan kisah meningkatnya penyerangan pemuda keturunan spanyol dan kulit hitam kepada kaum tua miskin berkulut putih, walaupun data statistik kepolisian menunjukkan penurunan akan jenis kejahatan seperti itu, para jurnalis tidak sanggup menahan tekanan untuk menuliskan kisah tersebut, karena jika mereka tidak menuliskannya maka media lain akan tetap menuliskannya. Jauh lebih murah jika mengikuti trend pemberitaan dibanding mengambil resiko kritik atau berinvestasi dalam memproduksi alternatif yang lebih menarik. Jelaslah bahwa jurnalis dan gatekeeper lain mendapat keuntungan dari hubungan yang mereka bangun dengan narasumber yang paling mampu memenuhi kebutuhan para jurnalis itu. Terlihat pula mengapa jurnalis memfavoritkan birokrat sebagai narasumber utama.

Namun narasumber pun dapat mengambil keuntungan dari hubungan ini. Nilai yang diperoleh dalam mengendalikan akses informasi terhadap target audiens melalui media massa menjadi benefit utama dan menjadi kontribusi upaya narasumber untuk mengendalikan keputusan-keputusan target audiens tadi. Informasi adalah masukan penting dalam menghasilkan pengaruh, dan tujuan utama media massa adalah mengantarkan informasi. Karena kredibilitas biasanya diasosiasikan dengan berita daripada iklan komersial, narasumber lebih memilih menghantarkan pesan mereka dalam berita berdurasi 30 detik daripada dalam iklan komersial 60 detik. Narasumber memilih reporter dan teknik menarik perhatian reporter dengan berpedoman pada prinsip efektivitas biaya. Konferensi pers, press release, brifing dipandang memiliki efisiensi ekonomis karena menyediakan akses terhadap sejumlah reporter sekaligus. Konsep “socialized journalism” yang disebutkan Dom Bonafede diaktualisasikan dalam bentuk pertemuan saat sarapan atau makan siang menjadi semakin populer dan efektif karena selain mampu menyelenggarakan waktu wawancara dengan sejumlah reporter sekaligus, juga memberikan kendali atas siapa saja yang diundang hadir.

Setiap narasumber memiliki target yang berbeda dalam melakukan subsidi informasi ini, maka pendekatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para jurnalis pun berbeda. Altheide dan Johnson mengemukakan bahwa pada umumnya birokrat mengarahkan subsidi informasinya kepada audiens khusus dibandingkan massa. Lalu narasumber lebih memilih saluran yang rutin digunakan oleh pejabat pemerintah tingkat tinggi dan para pengambil keputusan. Jadi walaupun lebih murah untuk memperoleh akses terhadap penerbitan kecil, dampaknya hampir tak ada artinya dibandingkan keberhasilan menggunakan suratkabar sekaliber The Washington Post.

Tujuan seluruh narasumber adalah mempengaruhi keputusan dengan merubah ketersediaan informasi yang melandasi keputusan-keputusan tersebut. Publik secara umum hanya memiliki keterlibatan marginal dalam penentuan kebijakan publik, dan karena upaya membentuk opini publik berbiaya tinggi, narasumber akan mendapatkan keuntungan dengan menggunakan pers untuk membentuk opini publik dibandingkan dengan mencoba mempengaruhinya secara langsung. Seringkali nilai subsidi informasi meningkat manakala narasumber dapat menyamarkan promosi, partisan dan kepentingan diri sendiri dalam liputan media. Ini kerap terjadi ketika berita memuat informasi yang diharapkan tanpa mengidentifikasi sumbernya. Informasi yang dapat diterima dengan penuh kehati-hatian jika narasumbernya disebutkan sebagai partisan dalam perdebatan, menjadi lebih kuat apabila diterima sebagai fakta objektif yang dilaporkan oleh jurnalis yang dianggap tidak memiliki kepentingan.

Narasumber juga kerap menggunakan media manakala mereka ingin mempengaruhi perdebatan ditempat mereka bekerja tanpa beresiko mengundang amarah atasan mereka. Narasumber seperti itu memberikan bocoran berita kepada para jurnalis. Bocoran berita juga sering digunakan pembuat kebijakan untuk menguji opini publik berkenaan dengan rancangan keputusan. Jadi ketika jurnalis menyeleksi sejumlah narasumber dan peristiwa berdasarkan kegunaan dalam proses produksi berita yang dapat memenuhi tuntutan organisasi tempat mereka bekerja, narasumber menyeleksi sejumlah besar pilihan teknik berdasarkan efisiensi relatif dalam menghasilkan pengaruh terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku pihak-pihak lain.

Powered by Qumana

Ditulis dalam Article Reviews | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Internet, Communication, and political participation – a Brief In Sight

Ditulis oleh octavadi di/pada Februari 3, 2009

Posting ini adalah posting pertama pada blog yang sudah lama dibuat dan dibiarkan kosong … LOL

Tulisan ini berasal dari salah satu jawaban pertanyaan Ujian Tengah Semester pada mata kuliah Perspektif dan Teori Komunikasi Massa di Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Mengapa diposting disini? Karena minat saya memang berkaitan dengan new media (salah satunya) dan hanya sekedar ingin mengawetkan apa yang saya tulis saja sih sebenarnya.

Posting ini tidak dikemas ulang dalam format ideal yang user friendly untuk publikasi berbasis web. Misal:

  • Artikel tidak dikemas dengan sistem modular, yang memudahkan orang mencerna informasi dalam artikel-artikel pendek. Sebaliknya artikel dibiarkan panjang seperti untuk format cetak.
  • Artikel tidak didampingi dengan ilustrasi visual atau audio yang memperkuat daya tarik dan isi pesan.
  • Terkait poin pertama, artikel ini panjang sehingga pengunjung blog perlu scroll cukup jauh kebawah untuk membaca keseluruhan artikel. Idealnya, satu ide dapat dinikmati dalam satu halaman tanpa scroll di monitornya.
  • dll banyak deh … untuk Mahasiswa Kuliah Perkembangan Media Baru … coba cari apa lagi yang ngga sesuai he3x

Mengapa saya tetap melakukan posting dalam format seperti ini, walau tahu cara membuatnya lebih user friendly? Ya ya ya… ini bukti bahwa tidak mudah untuk: “practicing your own preach”. Tidak ada alasan bermutu kecuali dikalahkan rasa malas untuk mengemas ulang tulisan ini. Maafkan ya.

Untuk para mahasiswa dan akademisi yang kebetulan merasa artikel ini bermanfaat untuk tulisan yang akan dibuatnya, please respect your self and do the proper citation procedure. Pake tata krama kutip mengutip yang pantas ya. Terima kasih

Baikah ini artikelnya:

Menyamakan Cara Pandang Terhadap Internet Dalam Kajian Komunikasi

Internet adalah “a network of computer networks”, kita dapat memikirkannya sebagai suatu sistem yang mengkombinasikan berbagai komputer dari seluruh dunia kedalam satu komputer raksasa yang dapat dioperasikan dari komputer personal di depan kita  (Dominick, 1996, p.14). Sebelum pembahasan kelebihan dan kekurangan Internet dimulai, kita perlu menegaskan terlebih dahulu pendefinisian dan perspektif yang digunakan untuk menggambarkan apa itu Internet.

 

Internet adalah sebuah jaringan mengglobal yang terbentuk dari berbagai jaringan komputer, masing-masing jaringan tersebut terbentuk secara terdesentralisasi namun saling terkoneksi melalui protokol yang disebut TCP/IP. Internet adalah produk teknologi, maka pendefinisiannya pun sebaiknya mengikuti terminologi teknis. Namun terdapat kecenderungan untuk melakukan penyederhanaan terhadap definisi Internet. Istilah internet lalu dianggap mewakili medium tunggal, bukannya jaringan atau infrastruktur bagi pertukaran data digital atau seperti yang dikatakan Bill Gates, “information superhighway”. Penyederhanaan tersebut dilakukan pula oleh sebagian pengamat/ilmuwan dari disiplin ilmu komunikasi, termasuk McQuail yang kadang menyebutkan Internet sebagai New Media dalam konteks sebuah medium tunggal, namun kadang memisahkan konteks Internet dengan New Media.

 

Untuk mempermudah penggolongan kelemahan dan keunggulan implementasi teknologi internet di Indonesia, penulis akan menggunakan cara pandang yang ditawarkan John December dalam Journal of Computer Mediated Communication. December dalam artikelnya Defining Units of Analysis for Internet-based Communication menawarkan bahwa kajian komunikasi berbasis Internet harus diarahkan pada bagian-bagian yang lebih spesifik, karena Internet bukan medium tunggal namun memiliki berbagai bentuk media didalamnya.

Internet communication is not a single medium sharing common time, distribution, and sensory characteristics, but a collection of media that differ in these variables. I define a unit of analysis called a media space, which uses the client-server-content triad as the basis for its definition. This concept of media space is one way to describe how the Internet consists of a range of media  (December, 2006).

Berdasarkan cara pandang John December tersebut, penulis memposisikan Internet sebagai infrastruktur telekomunikasi data digital, sementara yang dimaksud new media adalah aplikasi-aplikasi komunikasi antar manusia yang menggunakan jaringan Internet sebagai saluran pertukaran datanya. Internet diasosiasikan sebagai sistem jalan raya yang digunakan orang untuk membawa benda-benda dari satu tempat ke tempat lain. Jika jaringan jalan raya di dunia nyata digunakan untuk memindahkan benda-benda fisik berbasis atom, maka Internet digunakan untuk memindahkan material digital. Konsep material fisik dan digital ini dituliskan oleh Nicholas Negroponte  (Negroponte, 1995).

 

Terdapat teknologi lanjutan yang berlandaskan pada teknologi internet. Teknologi web, email dan chatting adalah teknologi yang melahirkan ruang interaksi antar manusia melalui perantaraan jaringan internet. Teknologi web melahirkan world wide web, teknologi email melahirkan sistem persuratan elektronik, teknologi chatting melahirkan aplikasi dan ruang chatting/percakapan tersinkron (synchronous) di ruang maya. Ketiga aplikasi ini merupakan aplikasi yang paling sering digunakan sebagian besar pengakses internet, itulah sebabnya  Internet sering diartikan sama dengan world wide web, email, dan chatting. Pada perkembangannya sekarang teknologi web bahkan telah mampu mengintegrasikan fungsi email dan chatting dalam suatu halaman web.

 

Kelebihan dan kekurangan Internet yang akan dipaparkan berikut lebih banyak difokuskan terhadap penggunaan ketiga aplikasi tersebut melalui jaringan Internet, khususnya jaringan dokumen digital yang disebut World Wide Web. Selain itu saat kita berbicara tentang teknologi komunikasi, pembahasan kita sebaiknya komprehensif karena teknologi bukan hanya sekedar soal perangkat keras dan segala aspek teknisnya.  “Communication technology is the hardware equipment, organizational structures, and social values by which individuals collect, process, and exchange information with other individuals”  (Rogers, 1986, p.2.). Dengan demikian pembahasan kelebihan dan kekurangan teknologi Internet akan meliputi pula pembahasan mengenai lembaga-lembaga yang terkait dengan implementasi penerapan teknologi tersebut termasuk regulasi yang mengaturnya, juga nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

 

Kelebihan:

Menurut McQuail terdapat beberapa keunggulan yang bisa diperoleh dengan adanya Internet terhadap penegakkan demokrasi  (McQuail, 2005).

Interactivity as opposed to one way flow.

Interaktivitas dalam konteks new media memiliki tiga pola. Pertama interaktivitas seperti yang digambarkan Rogers sebagai kemampuan sistem komunikasi baru (new media) untuk berbicara kepada penggunanya, hampir seperti partisipasi individu dalam percakapan (Rogers, 1986, p.4.). Interaktivitas disini adalah antara pengguna dengan sistem new media, dimana media merespon stimuli yang diberikan pengguna. Bentuk media interaktif menurut Terry Flew, adalah media yang memberikan derajat pilihan dalam sistem informasi, baik dalam bentuk pilihan akses terhadap sumber-sumber informasi, maupun kendali terhadap keluaran yang muncul sebagai akibat mengunakan sistem yang dimaksud dan membuat pilihan-pilihan tertentu. Sistem hypertext di world wide web adalah contoh interaktivitas semacam itu  (Flew, 2005, p.13.). Bentuk kedua adalah interaktivitas diantara orang-orang, Livingstone menyebutnya human to human atau user to user interactions  (Livingstone & Lievrouw, 2006, p.209.). Interaksi semacam ini adalah bentuk hubungan interpersonal yang diperantarai oleh sistem media baru seperti email yang asynchronous dan internet relay chat yang synchronous. Bentuk ketiga adalah interaktivitas antar mesin atau sistem (machine to machine) yang tidak akan dibahas dalam kaitannya dengan penegakan demokrasi di Indonesia. Bentuk interaksi terakhir ini berlangsung di latar belakang dan biasanya tidak disadari oleh para penggunanya.

 

Implementasi interaktivitas bentuk pertama, pengguna dengan dokumen/sistem media baru (new media). Kemampuan media baru untuk menampung dan menghubungkan sejumlah besar dokumen digital yang tersebar dimiliki oleh World Wide Web melalui mekanisme hyperlink. Teknologi web memberikan pilihan yang luas bagi pengguna untuk menentukan sumber dan bentuk informasi yang ingin diaksesnya pada waktu dan tempat yang dipilihnya. Keleluasaan untuk memilih informasi merupakan salah satu aspek demokrasi. Ini merupakan dukungan teknologi bagi kebebasan arus informasi yang bahkan melampaui batas-batas negara.

 

Namun yang perlu disadari, kebebasan tersebut tidak datang dengan sendirinya. Keleluasaan akses informasi melalui jaringan Internet dapat dibatasi dengan sengaja melalui pengaturan kebijakan negara. Jika mau, negara dapat memerintahkan dan mengawasi penyedia jasa internet untuk menutup akses terhadap sumber-sumber informasi yang dianggap berbahaya. Secara teknis ini dimungkinkan jika diwajibkan oleh regulasi. Contoh kasus adalah penutupan akses Internet di Myanmar tahun 2007 dan keberhasilan pemerintah Republik Rakyat Cina dalam mengendalikan arus informasi melalui internet sampai saat ini (Cable News Network).

 

Implementasi interaktivitas user to user. Menurut McLuhan, teknologi komunikasi memperluas indera manusia, khususnya mendengar dan melihat. Perluasan seperti itu membuat setiap individu dapat menerobos ruang dan waktu  (Rogers, 1986, p.2.). Interaktivitas macam ini merupakan perluasan komunikasi one to one, one to many, many to many baik secara sinkron maupun asinkron. Melalui teknologi Internet Relay Chat/Instant Messaging, aktor politik, pejabat publik, dan pejabat pemerintah dapat bercakap-cakap langsung dengan rakyatnya secara lebih efisien, karena keterbatasan ruang dan waktu menjadi kurang relevan untuk dianggap sebagai hambatan. Namun sekali lagi, walau ini dimungkinkan secara teknis tetapi tetap membutuhkan niat politik dari para pemegang kekuasaan untuk membuka saluran komunikasi melalui sarana semacam itu.

 

Mailing List dan discussion board menyediakan forum interaksi, diskusi dan pertukaran informasi mengenai beragam topik melalui perantaraan sistem email. Meluasnya ruang-ruang diskusi virtual terutama yang membahas tema-tema publik dapat menjadi sarana untuk mendorong perluasan partisipasi politik masyarakat. Misalnya partai-partai politik dan organisasi kemasyarakatan dapat mengelola mailing list sebagai saluran untuk mensosialisasikan ideologi-ideologi politiknya.

 

Kehadiran blog yang merupakan inovasi dalam pemanfaatan teknologi web, membawa terobosan baru mengenai pola pertukaran informasi di ruang virtual. Dari yang sebelumnya terdapat pemisahan yang tegas antara produsen informasi dengan konsumen informasi, kini batasan tersebut menjadi samar. Blog adalah sebuah situs web yang tujuan utamanya adalah sebagai sarana self publishing documents, ditampilkan dalam urutan kronologis terbalik, dan setiap dokumen dapat diakses secara individual melalui hyperlink. Suatu blog dapat dibuat dan dikelola oleh perorangan maupun kelompok/organisasi (Cooper, 2006, p.15.). Dengan adanya sistem publikasi instan seperti blog, setiap orang dapat menjadi penerbit informasi. Aspirasi tidak lagi harus disalurkan melalui media tradisional (main stream) tetapi dapat dipublikasikan sendiri. Perlu dicermati popularitas sebuah blog terutama ditentukan oleh pola komunitas pembaca dan penulis. Orang-orang dapat berinteraksi, saling membaca dan mengomentari tulisan-tulisan yang ada di blog masing-masing. Dari sudut pandang demokrasi, ini merupakan bentuk ruang publik (publik sphere) yang bebas, setiap orang dapat menulis apa saja namun dapat pula dikritik dengan berbagai tingkatannya. Sistem blog memperluas konsep citizen journalism, dimana setiap warga negara adalah jurnalis yang berhak dan dapat mengagendakan topik apa saja yang dianggap penting sebagai berita. Konsep citizen journalism menjamin diversity of content yang relatif bebas dari kepentingan kapitalis dan politik.

 

Gabungan antara synchronous dan asynchronous communication dapat dirasakan melalui trend jaringan sosial virtual seperti friendster, facebook, myspace, twitter dan sebagainya. Jaringan ini membentuk komunitas ruang maya dan memungkinkan anggota komunitas untuk berinteraksi, bertukar karya, informasi dan memperluas jaringan sosialnya secara interaktif dan atraktif dengan melintasi ruang dan waktu. Contoh penggunaan jaringan sosial virtual untuk kepentingan politik dalam sistem demokrasi ditunjukkan oleh tim kampanye Barrack Obama yang menggunakan berbagai jaringan virtual untuk menghimpun dukungan, dana sekaligus menjaring informasi langsung dari akar rumput. Tim kampanye termasuk Barrack Obama sendiri dapat berinteraksi langsung dengan orang-orang tanpa harus terpenjara konsep ruang dan waktu yang ketat.

 

Co-presence of vertical and horizontal communication, promoting equality. Konsep e-goverment seharusnya dapat menggambarkan peluang benefit seperti yang disebutkan McQuail ini. E-goverment adalah sistem informasi pemerintahan yang menggunakan teknologi berbasis teknologi internet. Misalnya seperti yang sudah disebut diatas; IRC/IM, web, dan email. Komunikasi dari atas ke bawah hadir bersamaan dengan tersedianya saluran untuk berkomunikasi diantar warga, dan komunikasi warga kepada penguasa. Saluran informasi ini tidak hanya digunakan untuk mesosialisasikan kebijakan, namun memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mediskusikan kebijakan dan memberi masukan dalam penyusunan kebijakan. Ini menggeser paradigma patriarki yang memandang pemerintahan sebagai orang tua dan warga negara sebagai anak yang perlu diasuh, menjadi paradigma kesetaraan yang memandang pemerintah dan warga sebagai mitra dalam proses pembangunan sosial, politik, budaya, ekonomi.

 

Disintermediation

Peran media massa tradisional sebagai perantara, penyampai aspirasi antara politikus dan warga menjadi berkurang. Interaksi dan pertukaran informasi dapat dilakukan secara langsung diantara mereka melalui perantaraan teknologi. Jurnalis dan media tempat mereka bekerja tak lagi memegang peran dominan dalam proses komunikasi tersebut.

 

Lagi-lagi keberadaan situs-situs web berjenis blog dan perangkat lunak jaringan sosial virtual lah yang memiliki andil dalam gejala disintermediation ini. Politikus dapat mengelola blog untuk mengungkapkan pemikiran dan ide-idenya sementara warga dapat membaca blog politikus tadi. Warga pun dapat meniggalkan pesan dan mengomentari posting blog politikus, sehingga politikus daat mengetahui respon warga terhadap ide-ide yang termuat dalam tulisannya. Sebaliknya politikus pun dapat membaca blog-blog yang dibuat warga untuk mengetahui langsung pemikiran warga, dan berdialog dengan warga melalui perantaraan mekanisme posting dan comment.  Jaringan sosial seperti myspace, facebook, friendster pun dapat digunakan untuk peran yang kurang lebih sama. Pada suatu kondisi tertentu seperti yang diamati Stephen .D Cooper di Amerika, blog pun dapat menggeser dominasi pers media tradisional sebagai pilar demokrasi keempat, bahkan dapat menjelma menjadi pilar demokrasi kelima yang berfungsi melakukan kontrol baik terhadap pemerintahan maupun kinerja media tradisional  (Cooper, 2006).

 

Low cost for senders and receivers

Media dan pesan yang dipertukarkan melalui perantaraan jaringan Internet merupakan material digital. Ini artinya tidak membutuhkan kertas. Jaringan internet dikembangkan secara terdesentralisasi diberbagai penjuru dunia, itu artinya produsen media tidak perlu membangun infrastruktur distribusi sendiri untuk menjangkau audiens yang luas dan tersebar diberbagai penjuru bumi. Proses produksi pesan dalam bentuk digital pun semakin lama semakin sederhana dan tidak membutuhkan banyak orang, tidak membutuhkan peralatan yang mahal, dan tidak membutuhkan keterampilan yang langka.  Gabungan itu semua membuat biaya untuk memproduksi dan mengakses pesan/media digital melalui perantaraan Internet menjadi relatif jauh lebih murah, dibanding dengan memproduksi pesan dalam bentuk media massa tradisional seperti suratkabar, majalah, televisi, radio dan sebagainya.

 

Speed greater than with traditional media

Kepemilikan informasi menjadi semakin penting dalam era yang disebut Rogers sebagai era informasi ini. Semakin cepat kita menguasai informasi yang vital, semakin cepat dan leluasa kita membuat keputusan-keputusan penting yang membuat kita unggul dari pihak-pihak lain. Produksi dan distribusi pesan melalui jaringan Internet memiliki gabungan keunggulan waktu, biaya dan jangkauan. Kombinasi ketiganya lah yang memuat media tradisional relatif berada dalam posisi yang lebih lemah.

 

Radio sebenarnya memiliki kecepatan produksi dan distribusi yang relatif lebih unggul dibanding teknologi internet, namun jangkauan distribusi pesannya kalah jauh dibandingkan dengan media-media online berbasis jaringan Internet. Apalagi kini perangkat untuk mengakses jaringan Internet semakin lama semakin bervariasi dan mobile, sehingga pengguna dapat mengirim dan menerima pesan hampir dimana saja dan kapan saja.

 

Ambilah contoh kasus publikasi peristiwa pengeboman kereta bawah tanah di Inggris dan peristiwa penembakkan di sebuah sekolah di Virginia Amerika Serikat. Dalam hitungan menit dan jam, posting gambar rekaman dari saksi mata yang membawa telepon selular berkamera telah beredar melalui blog. Komentar orang dari berbagai penjuru dunia mengalir dari satu blog ke blog yang lain. Sementara media tradisional masih sibuk mencoba menghimpun, mengolah, memverifikasi dan mengemas data-data, dunia sudah terlebih dahulu mengetahui peristiwa itu.

 

Absence of boundaries

Thomas L. Friedman menuliskan bahwa dunia kini telah menjadi datar. Batas-batas negara dan perbedaan waktu tidak lagi relevan untuk membatasi aktivitas dan pertukaran informasi diseluruh dunia.  Seseorang di India dapat melakukan pekerjaan untuk bisnis di Amerika tanpa pernah harus meninggalkan India, yang lebih menakjubkan lagi banyak orang Amerika tidak menyadari jika orang-orang India lah yang melakukan berbagai pekerjaan untuk mereka dari negeri asalnya sendiri. Globalisasi bukan saja terjadi diantara negera dan perusahaan multinasional, namun telah memasuki interaksi langsung dengan individu-individu (Friedman, 2006).

 

Jaringan Internet saat ini memungkinkan kita mengakses informasi, bercakap-cakap, bahkan melakukan transaksi bisnis dengan pihak-pihak di negara lain yang sama sekali belum pernah kita kunjungi. Informasi dari dan keluar batas-batas negara mengalir setiap hari dengan bebas, sehingga peristiwa politik disuatu wilayah yang jauh pun segera dapat diketahui dalam hitungan detik.

 

Dalam konteks penegakan demokrasi, fakta tersebut membuat masyarakat Indonesia dengan mudah mengetahui praktek pelaksanaan demokrasi dari berbagai penjuru dunia dan memperbandingkannya dengan situasi di Indonesia. Sebaliknya berbagai peristiwa politik di Indonesia pun dapat diketahui dengan segera diberbagai belahan dunia, ini menjadi mekanisme kontrol terhadap penguasa karena mata dunia ikut mengawasi pelaksanaan demokrasi di Indonesia.

 

Ketiadaan batas antar negara dan waktu ini sebenarnya dapat membantu efisiensi lembaga-lembaga negara untuk berkomunikasi dan belajar dengan berbagai pihak. Studi banding keluar negeri misalnya dapat digantikan oleh penelusuran informasi online, pertukaran surat elektronik, dan tele video conference.

 

Esensi Keunggulan

Esensi dari berbagai keunggulan seperti disebutkan diatas adalah melebarnya potensi partisipasi publik untuk mengungkapkan aspirasi dan berdialog dalam bidang politik. Semua keunggulan tersebut memberikan kemudahan untuk mencari dan mempublikasikan informasi melalui perantaraan teknologi berbasis jaringan Internet. Keberadaan Internet di Indonesia mendukung prinsip kebebasan arus informasi yang menjadi salah satu karakter dan landasan demokrasi. Dibanding beberapa negara lain seperti Cina, Malaysia, dan India, Indonesia jauh lebih terbuka dan liberal dalam hal kebijakan yang mengatur askses Internet. Namun keunggulan-keunggulan tersebut belum tentu otomatis mendongkrak partisipasi publik di bidang politik. Karena teknologi ini pun memiliki beberapa kelemahan dan hambatan.

 

Kelemahan:

Kesenjangan digital (Digital Divide).Kesenjangan digital adalah adanya jarak/kesenjangan antara mereka yang memiliki akses terhadap teknologi digital dengan mereka yang tidak memiliki akses (Hargittai, 2003). Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang beragam, mulai dari tingkat pendidikan, ekonomi, budaya dan sebagainya. Keberagaman tersebut juga merambah pada keberagaman kemampuan dan akses terhadap teknologi Internet. Ketimpangan akses ini pada akhirnya akan membuat perluasan partisipasi politik melalui teknologi ini hanya akan dikuasai oleh warga atau pihak-pihak yang memiliki keunggulan atas akses teknologi tersebut. Lagi-lagi partisipasi politik akhirnya tidak terdistribusi secara merata, aspirasi masyarakat dari golongan yang kurang mendapatkan akses terhadapt teknologi digital pun tidak tersalurkan secara lancar.

 

Content Credibility

Internet dapat diakses oleh hampir semua orang pada wilayah yang amat sangat tersebar. Telah lama dipercaya bahwa konten yang beredar melalui jaringan internet dapat dibuat oleh siapa saja dengan menyembunyikan identitas diri. Sehingga kredibilitas konten menjadi sangat lemah. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar, karena secara teknis setiap orang yang mengakses jaringan Internet akan meninggalkan jejak digital yang merujuk pada IP address, lokasi komputer yang digunakan untuk mengakses dan waktu akses. Bahkan jika seseorang mengakses internet dengan menggunakan IP address permanen yang terdaftar, identitas pendaftar langsung dapat diketahui. Inilah yang digunakan pemerintahan RRC untuk melacak para pelanggar kebijakan akses internet mereka. Keyakinan bahwa identitas seseorang dengan mudah dapat dipalsukan atau disembunyikan saat melakukan publikasi online muncul karena keterbatasan skill teknis pihak berwenang untuk melakukan pelacakan.

 

Namun tetap saja tidak semua orang mampu melakukan pelacakan seperti itu ditambah teknologi untuk menghindari pelacakan identitas pun semakin lama semakin canggih saja. Masalah kredibilitas ini menjadi hambatan dalam penggunaan blog misalnya sebagai sarana aspirasi politik. Sampai-sampai Roy Suryo pernah membuat pernyataan bahwa blog itu hanya berisi sampah dari orang-orang yang tidak jelas identitasnya. Fakta yang cukup disayangkan, sampai saat ini orang memang lebih banyak menggunakan blog untuk menggantikan fungsi catatan harian dibanding konten-konten yang memiliki nilai informasi tinggi.

 

Bibliography

Cable News Network. (n.d.). China and Internet Cencorship. Retrieved 11 4, 2008, from CNN.com: http://edition.cnn.com/interactive/world/0603/explainer.china.internet/frameset.exclude.html

Cooper, S. D. (2006). Watching the Watchdog: Bloggers as the Fifth Estate. Washingtone, United States of America: Marquette Books.

December, J. (2006, June 23). Journal of Computer Mediated Communication. Retrieved September 29, 2008, from WileyInterscience: http://www3.interscience.wiley.com/cgi-bin/fulltext/120837675/HTMLSTART

Dominick, J. R. (1996). The Dynamic of Mass Communication (5th Edition ed.). New York, United States of America: McGraw-Hill.

Flew, T. (2005). New Media-An Introduction (2nd Edition ed.). Melbourne, Australia: Oxford University Press.

Friedman, T. L. (2006). The World is Flat. (A. Purwanto, A. Benawa, Eds., P. Buntaran, & B. Molan, Trans.) Jakarta, Indonesia: Dian Rakyat.

Hargittai, E. (2003). The Digital Divide and What To Do About It. In D. C. Jones, New Economy Handbook. CA, United States of America: Academic Press.

Livingstone, S. M., & Lievrouw, L. A. (2006). The Handbook of New Media. United States of America: SAGE.

McQuail, D. (2005). McQuail’s Mass Communication Theory (5th Edition ed.). London, England: Sage Publications Ltd.

Negroponte, N. (1995). Being Digital. (Y. Liputo, Ed., & A. Baiquni, Trans.) Bandung, Jawa Barat, Indonesia: Mizan.

Rogers, E. M. (1986). Communication Technology, The New Media in Society. New York, United States of America: The Free Prees; A Division of Mcmillan, Inc.

 

Powered by Qumana

Ditulis dalam New Media and Communication | Bertanda: , , , | Leave a Comment »